Kamis, 08 Januari 2015

Makalah Candi Borobudur


CANDI BOROBUDUR

LOKASI
                Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, jawa tengah dan dikeliilingi beberapa dusn antara lain Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngarak. Kelan, Janan dan Gendingan.
Dr. Soekmono dalam bukunya Candi Borubudur, Pustaka Jaya menuliskan :
            Pada zaman dahulu Pulau Jawa terapung-apung ditengah lautan oleh karenanya harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak dikota Magelang yaitu gunung Tidar. Disebelah selatan gunung Tidar kira-kira jarak 15 km terdapat Candi Borobudur. Candi Borobudur terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya dikelilingi pergunungan. Disebelah timur terdapat gunung Merapi dan gunung ,Merbabu. Pada gunung Merapi itu setiap dua atau tiga tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi darat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro. Juga di sebelah selatan yang membujur dari timur kebarat terdapat pergunungan Menoreh. Oleh karena puncak-puncak pergunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka pergunungan ini dinamakan pergunungan Menoreh. Dilihat dari candi Borobudur puncak-puncak pergunungan Menoreh serupa dengan seorang yang sedang terlentar diatas pergunungan tersebut. Karena itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak gunung yang serupa dengan orang tidur itu adalah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat candi Borobudur.
Dataran kedu dialiri oleh dua sungai besar yaitu sungai Progo dan sungai Elo yang akhirnya menyatu menjadi sungai Progo dan mengalir ke selatan menuju Samudra Indonesia.
ARTI NAMA
            Bangunan-bangunan kuno yang berasal dari jaman purba sejarah Indonesia (permulaan tarikh Masehi sampai akhir abad ke-15) biasanya disebut candi. Sebagian besar dari candi-candi itu tidak diketahui nama aslinya. Candi-candi memang harus diketemukan dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam khasanah pusaka budaya kita. Juga banyak candi – candi yang diberi nama seperti desa dimana candi itu berada. Tetapi ada juga desa yang diberi nama menurut candinya. Candi Borobudur sendiri sulitlah ditentukan apakah nama borobudur mengambil dar nama desa ataukah nama desa yang mengambil nama dari candi tersebut.
            Dari abad (kitab sejarah jawa) dari abad ke 18 tersebut “BUKIT BOROBUDUR”, sedang keterangan yang disampaikan kepada Rffles (Letnan Gubernur Jendral Inggris) dalam tahun 1814 di desa bumi Segoro menyatakan adanya sebuah penemuan – penemuan purbakala bernama ”BOROBUDUR”. Dengan penemuan itu maka dapat disimpulkan bahwa nama Borobudur adalah nama asli dari bangunan candinya. Walaupun demikian perlu dicatat bahwa tidak ada sesuatu keterangan, baik prasasti maupun dokumen lain yang mengungkapkan nama candi Borobudur yang sesungguhnya.
Naskah dari tahun 1365 M, yaitu kitab negara kertagama karangan Mpu Prapanca juga menyebutkan kata/nama Budur untuk sebuah bangunan agama Budha aliran WAJRADHA.
            kemungkinan yang ada “BUDUR” tersebut tidak lain adalah candi Borobudur. Karena tidak adanya keterangan yan lain kiranya tidak bisa di ambil suatu kepastian.
      Penafsiran borobudur telah pula di lakukan oleh raffles berdasarkan keterangan yang ia kumpulkan dari masyarakat luas. Budur merupakan bentuk lain dari budo yang dalam bahasa Jawa berarti kuno. Tetapi bila dikaitkan dengan borobudur berarti Boro jaman kuno,jelas tidak mengandung suatu pengertian yang dapat dikaitkan dengan candi borobudur. Maka raffles menampilkan keterangan yang lain yakni Boro berarti Agung dan Budur disamakan dengan budha. Maka dengan demikian borobudur berarti sang Budha Yang Agung. Namun karena Bhara dalam bahasa Jawa kuno dapat diartikan banyak , maka borobudur dapat pula berarti Budha yang banyak. Jika dikaji dengan teliti maka keterangan yang dikemukakan raffles memang tidak ada yang memuaskan “Boro jaman kuno” kurang mengena, “Sang Budha Yang Agung” maupun “BUDUR” misalnya, perubahan demikian dapat diterangkan dari segi ilmu bahasa. Karena sukar diterima. Inilah sebabnya maka banyak usaha lain untuk memberi tafsiran pada Candi Borobudur dengan tepat.
            Bapak Poerbatjaraka (almarhum) menafsirkan dengan sangat masuk akal. Menurut beliau perkataan Boro itu Biara, dengan demikian maka Borobudur berarti Budur. Keterangan Poerbatjakara ini memang sangat menarik. Penyelidikan dan penggalian yang dilakukan tahun 1952 di halaman sebelah barat laut bangunan Candi Borobudur telah berhasil menemukan fondasi batu bata dan genta perunggu berukuran besar. Penemuan fondasi batu bata dan genta ini memperkuat dugaan dari sis – sisa sebuah Biara dihubungkan dengan kenyataan yang ada pada kitab Negara Kertagama mengenai nama “Budur” maka besar kemungkinan tafsiran Poerbatjakara tepat. Namun demikian masih merupakan sesuatu pertanyaan mengapa biara dalam hal penamaan menggantikan candinya, padahal candi lebih penting daripada Biaranya.
            De Casparis berhasil menemukan kata majemuk dalam prasasti yang kemungkinan merupakan asal kata “Borobudur”. Prasasti yang berangka tahun 842 M dijumpai perkataan bumi Sambhara Budhura sebutan untuk bangunan suci pemujaan nenek moyang. Penelitian yang mendalam tentang keagamaan yang terungkap dalam prasasti dan juga rekonstruksi yang sangat teliti terhadap geografi daerah terjadinya peristiwa sejarah yang bertahan dengan prasasti tersebut maka De Casparis menyimpulkan bahwa Bhumi Sambhara Budhura tidak lain adalah Borobudur. Perubahan kata Bhumi Shambara menjadi Borobudur diterangkan akibat gejala umum dalam bahasa sehari hari untuk menyingkat atau meyederhanakan ucapan. Sampai sekarang banyak sarjana yang keberatan terhadap tafsiran De Casparis itu. Tapi haruslah diakui bahwa sampai sekarang belum ada keterangan atau tafsiran yang tepat mengenai nama Borobudur. (Dr.Soekmono , Pustaka Jaya 1981, hal.39,40,41).
            Drs Soedirman dalam bukunya Borobudur salah satu keajaiban dunia menjelaskan mengenai arti nama Borobudur sampai sekarang belum jelas. Namun juga dituliskan bahwa nama Borobudur berasal dari gabungan kata Bara dan Budur. Bara berasal dari kata Sansekerta Vihara yang berarti kompleks candi dan Bihara atau asrama. (Poerbatjakara dan stutterheim). Budur dalam bahasa bali Beduhur yang berarti diatas.
            Jadi nama Borobudur berarti asrama / Vihara atau kelompok candi yang terletak diatas tanah / bukit. (Drs. Soedirman, Borobudur salah satu keajaiban dunia 1980, hal 8). Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief relief dan ukiran ukiran hias tetapi juga dapat dibanggakan karena patung patungnya yang sangat tinggi mutu seninya. Patung patung itu semua menggambarkan Dhyani Budha terdapat pada bagian Rupadhatu dan Arupadhatu. Patung patung Budha di Rupadhatu ditempatkan dalam relung relung yang tersusun berjajar pada sisi luar pagare langkan sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan tingkatan bangunannya semakin tinggi letaknya kecuali letaknya semakin kecil ukurannya.


v  Langkan pertama       :  104 patung Budha
v  Langkan kedua                       :  104 patung Budha
v  Langkan ketiga                       :   88 patung Budha
v  Langkan keempat       :   72 patung Budha
v  Langkan kelima                      :   64 patung Budha
v  Teras bundar pertama           :   32 patung Budha
v  Teras bundar kedua   :   24 patung Budha
v  Teras bundar ketiga   :   16 patung Budha

v  JUMLAH SELURUHNYA :   504 patung Budha


Sekilas patung Budha itu nampak serupa semuanya, tapi sesungguhnya ada juga perbedaanya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangannya yang disebut Mudra yang merupakan ciri khas untuk setiap patung.

SIKAP TANGAN ATAU MUDRA CANDI BOROBUDUR ADA 6 MACAM.
Hanya saja oleh karena kedua macam Mudra yang dimiliki oleh patung yang menghadap semua arah baik di bagian Rupadhatu (langkan tingkat 5) maupun dibagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud maksud yang sama. Maka jumlah Mudra yang pokok ada 5, yaitu:

1.      Bhumispara Mudra
Sikap tangan ini melambangkan saat sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis Mara
2.      Wara Mudra
Sikap tangan ini melambangkan perihal amal memeri anugrah atau berkah.
Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Budha Ratna Sambawa. Patung patungnya menghadap ke selatan
3.      Dyana Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang semedi atau mengheningkan cipta.
Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amithaba. Patung patungnya menghadap ke barat
4.      Abhaya Mudra
Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan.
Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amoghasdhi, patung patungnya menghadap ke utara.
5.      Dharma Cakra Mudra
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda Dharma
Mudra ini menjadi khas Dhyani Budha Wairocana daerah kekuasaanya terletak di pusat.
Khusus di Candi Borobudur Wairocana ini digambarkan juga dengan sikap tangan yang disebut Witarka Mudra.
(Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya, 1981, hal 80,82,83)


HITISAR SEJARAH
Waktu didirikan :
            Sampai sekarang belum pernah ditemukan sumber tertulis yang menyebutkan bilamana candi Borobudur  itu dibangun  sehingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan oleh para ahli untuk menentukan usia dari bangunan Borobudur itu. Pada bagian kaki candi borobudur yang tertutup terdapat tulisan singkat berbahasa sansekerta dengan huruf kawi. Dengan membandingkan bentuk huruf-huruf tersebut dengan prasati bertarikh yang ada di indonesia, maka sementara sarjana berpendapat bahwa candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Pada abad itu di Jawa Tengah berkuasa raja raja dari Wangsa Syailendra yang menganut agama Budha Mahayana sehingga dapatlah dikatakan bahwa borobudur bersifat agama Budha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Syailendra.
                                    (Drs. Soedirman, Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia,1980,hal1)
Uraian bentuk bangunan:
            Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi. Maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu kita anggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.
            Sesungguhnyalah adanya jenjang jenjang dan lorong lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.
            Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai benar dengan aliran Budha yang memang sangat mementingkan adanya tingkatan tingkatan dalam persiapan mental para pengantutnya yang setia. Melalui tingkatan tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai. Yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.
            Adapun tingkatan tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi 3 dunia:
Dunia paling bawah
KAMADHATU                      :           Atau dunia hasrat.
Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat. Relief ini terdapat pada kaki candi bangunan asli. Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik
Dunia yang lebih tinggi         
RUPADHATU                        :           Atau dunia rupa.
Manusia telah meninggalkan segala hasratnya, tetapi masih  terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkan 1 sampai 5. Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[5] Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Dunia yang tertinggi
ARUPADHATU                     :           Atau dunia tanpa rupa
Dalam tingkatan ini sudah tidak ada sama sekali nama ataupun  rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia fana. Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.
“Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adibuddha', padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.” 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f3/Borobudur_Cross_Section_id.svg/532px-Borobudur_Cross_Section_id.svg.png                                               
(Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya,1981, hal 47)

Bangunan candi Borobudur berbentuk limas berundak dan apabila dilihat dari atas merupakan bujursangkar. Bangunan candiada 10 tingkat. Tiga tingkat yang paling atas berbentuk lingkaran dengan tiga teras.
                        Teras pertama terdapat : 32 stupa berlubang
                        Teras kedua terdapat : 24 stupa berlubang
                        Teras ketiga terdapat : 16 stupa berlubang
                        Jumlah seluruhnya     : 72 stupa berlubang
Masing – masing stupa terdapat patung Budha.
Di tengah-tengah stupa tersebut terdapat stupa induk yang merupakan mahkota dari bangunan candi Borobudur. Stupa induk bergaris tengah 9,90 meter. Tinggi sampai bagian baah pinakel 7 meter. Drs. Soedirman dalam bukunya Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia hal. 36 menulis bahwa diatas puncak pinakelnya dahulu diberi payung (cattra) bertingkat tiga (sekarang tiadk terdapat lagi). Stupa induk ini tettutup rapat, sehingga orang tidak dapat melihat didalamnya. Didalamnya terdapat kamar (ruangan) yang sekarang tidak terisi. Ada yang mengatakan bahwa ruangan itu untuk tempat penyimpanan arca atau relief, tapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya. Karena sewaktu diadakan penyelidikan mengenai isi dari stupa indukoleh Residen Kedu Hartmann dalam tahun 1842 sama sekali tidak dibuatkan laporan tertulis, sehingga semua pendapat mengenai isi stupa induk itu hanyalah dugaan belaka.
~ Lebar dan Panjang candi Borobudur         : 123 meter
~ Keliling candi Borobudur                : 492 meter
~ Tinggi sekarang                                           : 34,5 meter
Batu andesit yang digunakan untuk bangunan candi sebanyakn 55.000m3